Growth Hacking. Baiklah, I admitted. Sebagai orang yang setiap hari memperhatikan ilmu pemasaran, dan bergelut lama di bidang ini, saya merasa gagal. Dari apa yang saya baca, saya tahu dan saya mengerti; tidak ada satupun aplikasi ilmu pemasaran yang bisa menghasilkan dalam waktu singkat. Membangun brand misalnya, memerlukan waktu bertahun-tahun. Mempertahankannya lebih pusing lagi. Lihat bagaimana HM Sampoerna membangun brand-nya dan mati-matian bertahan.

Awal kegagalan saya adalah ketika tergelitik pengen tahu apa itu growth hacking. Tidak begitu tertarik di awal – kemungkinan karena ada kata ‘hacking’ disitu dan saya bukan orang coding – tapi ketika mulai mendalami menjadi semakin mengerti apa yang terjadi.

The end goal of every growth hacker is to build a self-perpetuating marketing machine that reaches millions by it self – Aaron Ginn

Penjelasannya mungkin bagus mulai dari sini : apa kesamaan dari Dropbox, Mailbox, Twitter, Pinterest, Facebook, Snapchat, Evernote, Instagram, Whatsapp, Appsumo? Jawabannya ada tiga. Yang pertama, mereka sudah menjadi bisnis yang milyaran bahkan triliunan. Yang kedua, mereka semua menjadi entitas bisnis mahal dalam waktu yang tidak begitu lama (rata-rata 6-24 bulan. Dan ketiga, tidak ada satupun dari mereka yang dibangun orang yang mempunyai kemampuan ‘traditional’ marketing yang mumpuni. Misalnya saja, tidak ada budget promosi besar-besaran yang dikeluarkan, atau sekumpulan orang sales marketing yang pusing memikirkan iklan, sales call, brosur, upselling, dll.

Apa Itu Growth Hacking?

Studi yang dilakukan oleh Harvard Business Review menemukenali bahwa 80% marketer tidak puas dengan cara perhitungan dan kemampuan untuk mengidentifikasi Return on Investment (ROI) dari aktivitas pemasaran yang dilakukan. Padahal, menurut Noah Kagan, growth hacker-nya Facebook : marketing has always been about the same thing – who your customers are and where they are. Yang membedakan growth hackers dengan pemasar konvensional adalah growth hackers selalu memakai data. Data dalam arti yang sebenarnya. Secara presisi dan akurat.

Saya membayangkannya seperti ini. Kalau saya adalah seorang Director of Marketing dari brand besar, kemudian memutuskan untuk memasang iklan di jalan utama sebuah kota, yang dilihat adalah (perkiraan) berapa banyak orang yang lewat dan lihat iklan tersebut. Oke, berapa banyak mobil yang lewat, pola dan perilaku orang lewat mungkin dapat dikira-kira. Dari semua probabilitas itu, diperkirakan 90% orang yang lewat akan melihat iklan tersebut. Selebihnya, berdoa agar orang yang lihat iklannya akan membeli barang yang dipromosikan.

Growth hackers berpikir sedikit berbeda. Mereka adalah data scientist, designer sekaligus marketer. Yang dilakukan adalah meminimalisir pemakaian insting dan tebak-tebakan. Ini harus dilakukan karena budget pemasaran mereka yang terbatas atau bahkan tidak ada. Apabila pun harus memasang iklan di sebuah web besar dengan traffic bejibun. Analisa pengunjung akan diperhatikan baik-baik. Bukan hanya menebak berapa banyak yang akan melihat iklannya, tetapi bisa sampai ke berapa pengunjung yang mengklik iklan, yang melihat ke link, yang menjadi konversi atau bahkan demografi pengunjung yang sangat akurat.

Secara spesifik, growth hackers adalah seseorang yang mengacuhkan cara bermain pemasaran tradisional dan menggantikannya dengan yang : testable, trackable dan scalable. Walaupun konsep ini sepenuhnya adalah perubahan mindset, tetapi tools yang dipakai oleh growth hackers bukan lagi brosur, poster, dsb; tetapi lebih kepada emails, pay per-click ads, blog dan digital platform. Ketika para marketer berpikir keras tentang market share, branding dan bahkan top-of-mind positioning, growth hackers fokus hanya di user dan growth. Tekniknya adalah : users -> more user from users-> more users from users.

Istilah growth hacker pertama kali dipakai oleh Sean Ellis di 2010. Dalam penjelasannya, menurut Sean, growth hacker bukanlah turunan dari marketer, bukan pula (secara konsep) lebih baik dari marketer. It is just different than a marketer. Growth hacker adalah orang yang percaya 100% pada kekuatan growth. Setiap keputusan yang diambil, setiap strategi, setiap taktik dan setiap ide yang keluar harus mempunyai hilir di GROWTH.

Bagaimana Melakukan Growth Hacking?

Dari semua referensi yang saya baca, growth hacking bisa dilakukan dengan satu kondisi : produk yang hebat. Sori, bukan hanya hebat, tapi yang luar biasa. Selain produk yang tingkat awesomeness-nya tinggi, hal yang kedua adalah harus menjadi yang pertama di market, atau paling tidak menjadi yang pertama di marketing-channel.

Bayangkan, mengapa seseorang mau sign up/ opt-in untuk sebuah produk yang masih beta (prototype)? Seperti yang secara massif dilakukan oleh Dropbox atau Mailbox. Jawabannya sudah ada di atas. Produknya oke, dan yang paling penting, mereka adalah yang pertama memasarkan dengan cara seperti itu.

Ambillah contoh Dropbox. Saat ini ada lebih dari 300 juta pengguna Dropbox di seluruh dunia. Awalnya mereka hanya memasang opt-in untuk waiting list. Untuk mem-boost sign up di squezze page mereka, foundernya membuat video lucu yang menjelaskan tentang Dropbox. Mereka tidak menyewa production house mahal untuk mengerjakan videonya, tapi justru dibuat sendiri. Untuk membuatnya menjadi viral, video lucu itu disebarkan di Digg, SlashDot dan Reddit. Pengunjung mereka memang kebanyakan menyukai jokes dan hal-hal yang menyenangkan.

Tidak seberapa lama, video itu menjadi sangat populer. Nangkring di halaman satu dan mendatangkan ratusan ribu pengunjung ke Getdropbox.com, squeeze page-nya. Dalam waktu satu malam, waiting list yang tadinya hanya 5.000 signed-up membengkak menjadi 75.000. Efektif, trackable dan sangat visible.

Lihat lagi yang dilakukan oleh eBay di tahun 2012. Mereka bekerjasama dengan Gogo – perusahaan provider internet – yang menyediakan wifi berbayar di dalam Delta Airlines dan Virgin America. Kerjasama itu menerangkan bahwa eBay, dan hanya eBay, bisa di akses secara gratis oleh pengguna wifi Gogo di dalam pesawat. Well, sebetulnya bukan gratis juga, eBay yang bayarin buat akses itu. Ini langkah cerdas. Dalam waktu yang singkat, semua orang yang memakai laptop, jumlahnya ratusan ribu, yang sedang bosan nggak tahu harus ngapain di dalam pesawat mulai mengakses eBay. Gratis.

Secara teknis, eBay menggunakan tracking untuk melihat traffic dari Gogo dan membandingkannya dengan revenue yang mereka dapat dari situ. Sejumlah traffic yang mereka harus bayar ke Gogo tinggal dibandingkan dengan pendapatan yang dipicu oleh orang-prang yang ada di dalam pesawat. Boom! Massif sales!

Berani meng-klaim kalau anda seorang growth hacker? Hhmmm..

Photo by uberof202

Yuk dapetin update email penuh cinta dari BixBux

ABOUT THE AUTHOR:

CEO of EntroBuzz. Passionate affiliate marketer. Coffee trailblazer. Believe in idea, creativity and rock 'n roll. Find me on Google+, Facebook, Instagram, or Twitter @WRahMada.

3 Comments on this article. Feel free to join this conversation.

  1. Mbah Katob December 11, 2014 at 10:55 AM - Reply

    Ancen ngeten (Y) artikel niki om…

  2. Hendra March 24, 2016 at 4:06 PM - Reply

    Fokuslah pada mindset, bukan tools. Itu yang saya tangkap dar growth hacking.

Leave A Response