Di medio awal tahun 2013 saya pernah berdiskusi dengan beberapa teman tentang iklan yang tiba-tiba nongol pas kita mau browsing via Telkomsel. Kalau jaman sekarang nyebutnya intrusive ads (mungkin karena mengganggu) atau kalau saya nyebutnya interstitial ads. Saat itu saya memakai provider nasional itu untuk data dengan smartphone. Kebetulan saya mempunyai hubungan cukup mesra dengan beberapa petinggi PT Telkom, pemilik Telkomsel, jadi mengerti asal muasal bagaimana iklan tersebut bisa muncul. Termasuk yang di Speedy.

Ide iklan itu muncul pertama kali dari halaman not found 404 redirect yang seringkali muncul di browser kita karena salah ketik URL. Kalau tidak salah pada saat itu ada sekitar 200,000 impresi yang dijual. Sempat kepikiran untuk membeli impresi di banner, tapi saya mundur ketika tahu bounce rate di halaman itu sangat tinggi. Iyalah, siapa yang mau berlama-lama di halaman ‘not found’ seperti itu?

Satu lagi halaman yang ditawarkan saat itu oleh Telkom adalah halaman ‘internet positif’. Semua yang pernah masuk ke Vimeo, atau situs-situs porno memakai IP Indonesia pasti pernah kesandung halaman ini. Kalau yang ini saya tidak berpikir panjang untuk menolaknya. Secara psikologis, yang masuk ke halaman internet positif bukanlah tipe orang-orang yang bisa disisipin iklan. Bahkan sehalus iklan CPA yang memakai landing page berlapis-lapis sekalipun.

Untuk perusahaan sekelas Telkomsel atau XL, interstitial ads yang ditampilkan menjadikannya perusahaan kacangan. Agak kampungan menurut saya malah. Lihat saja, bahkan gambar yang ditampilkan, secara pixel, banyak yang tidak maksimal. Blur disana sini dan produk yang ditampilkan juga medioker. Saya tidak tahu bagaimana CTR dan konversi dari iklan yang ditampilkan. Tetapi kalau melihat kemarahan penggunanya, mungkin konversinya tidak seperti yang diharapkan.

Menurut saya, tidak sepatutnya perusahaan Telco (telekomunikasi) memperlihatkan iklan pada saat kita, pelanggan, harus membayar untuk koneksinya. Ini juga yang membuat banyak orang menandatangani petsi penghapusan iklan interstitial ini. Kalau anda ingin ikut menandatangani petisi di change.org ini, silakan klik disini : Petisi hapuskan intrusive ads.

Sebetulnya, disisi yang lain, saya juga ada nyengir-nya. Banyak hal yang bisa dilihat dari penayangan iklan ini. Beberapa diantaranya :

1. Interstitial ads yang ditayangkan justru menunjukkan bobroknya perusahaan-perusahaan tersebut dalam digital marketing. Perusahaan telekomunikasi besar di Indonesia tetapi justru kebingungan dalam monetizing traffic-nya. Jelas sekali bahwa mereka tidak bisa move on dari perusahaan penyedia koneksi internet dan tidak fokus di iklan. Perilaku seperti ini agak memalukan. Seharusnya mereka bisa lebih baik dari ini.

2. Kebanyakan iklan yang ditayangkan berasal dari perusahaan content provider. Saat ini, sejak banyak kasus negatif dari perusahaan jenis ini, pemerintah sudah tidak lagi menyediakan ijin baru. Banyak juga perusahaan content provider yang gulung tikar tapi masih ada juga beberapa yang masih bertahan. Mereka ini dulu yang bertanggungjawab atas hilangnya pulsa kita karena sign-up di nada dering, atau nada tunggu atau bahkan premium call. Sialnya, perusahaan ini yang membuat harga traffic Indonesia melambung tinggi (bagai pemain CPA yang bermain-main dengan traffic Indonesia pasti mengerti). Perusahaan ini bekerja sama dengan artis untuk nada dering dan monetize serampangan. Mereka mengerjakan semuanya sendiri. Padahal ada cara cerdik agar mereka untung besar. Dibahas lain waktu deh.

3. Saya selalu bilang, siapa yang menguasai traffic akan menguasai dunia. Pikirkan, siapa yang menguasai traffic Indonesia? Selain traffic dari wifi, penguasanya ya perusahaan telekomunikasi. Coba hitung berapa banyak perusahaan telekomunikasi di Indonesia. Jumlah jari di dua tangan pun gak habis. Sedikit sekali. Berapa banyak traffic yang di generate di Indonesia? Buanyak sekali. Lebih dari 5 milyar dalam sebulan. Saat ini semua traffic itu masih belum di manfaatkan maksimal. Secara cerdas tentu saja.

Bahkan, kalau saya, lebih baik menyerahkan pengelolaan iklan ke pihak ketiga yang mengerti betul. Bukan perusahaan iklan – advertising company – ya (sekarang ini pengelolaannya sudah diserahkan ke mitra perusahaan tersebut), tetapi perusahaan traffic source PPV (pay per view) yang kompeten. Banyak sekali orang yang penasaran dengan traffic dari Indonesia. Dengan growth yang sedemikian besar, seharusnya bisa menghasilkan besar. Tinggal buat interface yang bagus dan user friendly, pasti banyak yang pengen. Dan lagi, iklan tidak perlu ditayangkan setiap saat, tetapi bisa dicari dan di pop-up atau pop under dengan keywords yang dibidik. Jual CPM-nya. $$$$$.

Tapi ya sudahlah. Pemikiran perusahaan besar terkadang tidak berpikir kecil. Mikirnya yang gede-gede saja. Saya gak yakin intrusive ads itu bakal ditutup, bukan karena mereka menghasilkan besar. Tetapi karena di perusahaan segede itu, mereka gak peduli juga. Sampai dengan hari ini, petisi dengan target 20.000 orang di atas masih kurang 1600an. Setelah itu terus apa? Saya sih mau ngasih pencerahan dikit saja ke perusahaan-perusahaan itu. Masih banyak bentuk iklan lain yang bisa dipasang selain yang interstitial, text ads (seperti punya Google Adwords) dan banners (Speedy menawarkan iklan banner). Beberapa diantaranya adalah :

1. Pop-Under
Iklan bentuk ini lebih ‘sopan’ walaupun masih bisa disebut intrusive (mengganggu). Bukan memaksakan iklan disaat penggunanya akan browsing tetapi iklan akan keluar ketika pengguna akan log out dari halaman tertentu atau iklan muncul di browser selanjutnya, di belakang main browser yang dipakai. Dari sisi advertiser, iklan pop-under akan memunculkan tingkat visibility yang lebih tinggi.

Format yang dipakai bisa 1) Landing Page Pop Under, yang menampilkan full website atau landing page di browser berikutnya. 2) Graphic Image Pop Under, yang ditampilkan adalah graphic, bisa berformat JPG atau GIF dengan URL yang bisa di klik. 3). Graphic Redirect Pop Under, iklannya bisa lebih bervariasi, bisa pakai JavaScript, HTML atau Flash.

Masalahnya satu barangkali, Pop Under akan perlu bandwith. Pelanggan tidak akan mau bayar untuk bandwith ini. Tapi dengan teknologi, pasti bisa diatasi.

2. Pop-Up
Ini masih tergolong intrusive sebetulnya, makanya musti dilakukan dengan hati-hati. Idenya adalah, iklan tidak perlu nge-pop up di setiap tempat. Kalau traffic-nya di kelola oleh perusahaan traffic source. Secara teknis pop up akan muncul apabila ada pengguna traffic yang mengetik kata kunci tertentu. Misalnya gini, ketika ada pengguna masuk ke website tentang sepatu. Muncul deh pop up iklan tentang sepatu. Dengan begitu Pop Up atau Pop Under yang nongol tidak akan dianggap terlalu menganggu karena setema dengan halaman yang dicari.

3. Re-direction
Dari namanya sudah jelas. Iklan ini adalah hasil redirect dari website tertentu. Bayangkan kalau halaman not found 404 dan internet positif tidak berbenuk seperti sekarang ini. Semuanya di redirect saja ke halaman yang lebih menyenangkan. Pasti banyak yang mau iklan.

Masih banyak sebetulnya jenis iklan yang lain. Belajar dari traffic adult, masih ada instast message ads, atau yang lain lagi. Tetapi, inti semuanya adalah bagaimana perusahaan Telco yang mempunyai traffic sedemikian besar tapi bisa mengelolanya secara efektif, benar, dan yang paling penting tidak mengganggu penggunanya. Masalahnya bukan di teknis iklannya, tetapi di strategi, mindset dan tata kelola iklan yang lebih profesional. Mudah-mudahan artikel ini bisa memberikan gambaran yang bisa dilakukan. Mudah-mudahan.

Yuk dapetin update email penuh cinta dari BixBux

ABOUT THE AUTHOR:

CEO of EntroBuzz. Passionate affiliate marketer. Coffee trailblazer. Believe in idea, creativity and rock 'n roll. Find me on Google+, Facebook, Instagram, or Twitter @WRahMada.

8 Comments on this article. Feel free to join this conversation.

  1. Vins December 16, 2014 at 5:17 PM - Reply

    yg rugi ya user (yg sudah bayar) dan pemilik website (yg gak tau apa2)

  2. Damar Pramudito Nurjati January 26, 2015 at 2:57 PM - Reply

    Kalau saya lebih suka….
    tidak apa-apa muncul iklan Interstitial, asalkan biaya internet digratiskan πŸ˜€

  3. Hendra March 24, 2016 at 4:39 PM - Reply

    Tahun 2016 ini sepertinya sudah tidak ada lagi. Sudah Insyaf mungkin.

  4. Wapru April 15, 2016 at 6:26 PM - Reply

    mungkin telkomsel dan XL sekarang udah gk ada (saya gk tau) tapi annoyingnya sekarang iklan ini ada lagi di TELKOM INDONESIA, WOW! ads diinject sebelum ini kita udah bayar buat koneksi internet tapi masih disisipi iklan kan, ada-ada aja.

  5. Dimas December 26, 2016 at 11:01 AM - Reply

    Menarik mas! Pengalaman saya, sekarang insterstitial ads yang dijual provider udah bisa tergeted. Misalnya, ads hanya muncul ketika user dari provider Ind*sat membuka situ abc.com. Tapi masih terbatas di beberapa provider. Kalau facebook bisa target based on percakapan di Whatsapp, harusnya Telco bisa melakukan model yang sama bukan? Hmmm

    • Wientor Rah Mada December 26, 2016 at 12:40 PM - Reply

      you’ll be surprised with what telco can do to our connection mas πŸ™‚
      cuma mereka masih bodo aja sekarang hihihi

Leave A Response