Beberapa hari yang lalu saya meeting dengan beberapa teman dari Telkom Indonesia, dan diperkenalkan kepada Kepala Divisi Biller dan Merchant dari Finpay, Pak Firmanto Agung Purawan, atau yang lebih sering dipanggil Pak Cheppy. Dari beliau, saya baru mengenal ada sistem pembayaran online di Indonesia yang bernama Finpay, di bawah kelola PT Finnet Indonesia, salah satu anak perusahaan Telkom Indonesia.

Selama ini, solusi pembayaran online di Indonesia bisa dibilang sangat terbatas, terutama apabila berhubungan dengan sistem pembayaran kartu kredit online. Saya juga sempat berbicara denga pemilik beberapa hotel di Bandung untuk program e-commerce yang mereka punya, dan memang kekurangan dari reservation system yang dipunyai oleh hotel adalah tidak adanya sistem pembayaran kartu kredit domestik yang bisa dipakai. Jadi, walaupun mempunyai reservation system, pada saat check out pembayaran biasanya mempergunakan sistem pembayaran dari luar negeri seperti : Booking.com (Singapore), Fast Booking (Singapore) sampai ke Agoda (Thailand). Ini berarti, untuk saya misalnya, yang orang Bandung dan akan menginap di hotel di Lembang, pembayarannya akan dibawa dulu ke luar negeri. Menyedihkan.

Begitu pula untuk internet marketer yang mempunyai e-product ataupun pemilik digital marketplace lokal. Memang banyak pilihan di luar sana. Bisa memakai Swreg atau 2CheckOut, tetapi keduanya tetap memberikan aturan ketat mengenai pembayaran visa kartu kredit. Kita hanya bisa mendapatkan pembayaran dari hasil penjualan yang kita lakukan 1,5-2 bulan setelah terjadi gesekan kartu kredit.

Nah, finpay ini, tadinya saya berharap besar bisa mengakomodir, baik industri internet yang mulai bermunculan, seperti toko online, digital market place, dll; atau bahkan individual digital product yang dijual secara indie. Didukung oleh Telkom, tentu saja harapan saya seharusnya bisa terwujud. Sistem pembayaran online via kartu kredit d finpay memang sangat mudah, terutama dari sisi end user/visitor. Pembeli akan digiring ke check out page finpay, memasukkan nama, nomer kartu kredit dan CVV nya secara aman (secure). Tiga hari setelah terjadi penjualan, seller akan menerima uang penjualan dari finpay. Simple dan easy.

Hanya sayangnya, sepertinya Finpay masih fokus kepada pelanggan besar, atau lebih tepatnya korporasi. Untuk meng-cover biaya integrasi, lisensi koneksi, API dan implementasi kartu kredit dengan Bank Aquiring, ada fee integrasi sebesar lebih dari 10 juta yang harus dibayarkan di depan apabila kita akan memakai layanan ini (ini tidak ada di Swreg dan 2CheckOut). Walaupun diklaim oleh Finpay, biaya tersebut bisa dirancang ulang tergantung dari traffic, ticket size dan resiko bisnis dari merchant. Padahal, dengan semakin berkembangnya internet di Indonesia, pedagang-pedagang kecil akan menjamur. Pedagang produk digital (skala kecil/individual) ini yang akan mendominasi karena jauh lebih mudah untuk bergerak dan lebih fleksibel. Lihat saja Kebun Emas yang sudah terjual lebih dari 33.000 ebook dalam kurun waktu 4 tahun saja. Ini bukti perputaran uang di digital product yang bukan dikelola oleh korporasi pun ternyata sangat tinggi.

Jadi inget kata-kata dari pemilik Kebun Emas, pak Rully Kustandar, yang selalu mengingatkan; sekarang ini yang kecil akan memakan yang besar, karena yang kecil jalannya jauh lebih kenceng dan lebih enteng. Jadi bagaimana, masih kah akan mengabaikan yang ‘kecil-kecil’, Finpay?

Yuk dapetin update email penuh cinta dari BixBux

Tags: , , ,

ABOUT THE AUTHOR:

CEO of EntroBuzz. Passionate affiliate marketer. Coffee trailblazer. Believe in idea, creativity and rock ‘n roll. Find me on Google+, Facebook, Instagram, or Twitter @WRahMada.

5 Comments on this article. Feel free to join this conversation.

  1. Raditya January 29, 2013 at 6:20 PM - Reply

    Ada yang kasih saran ini juga min..
    https://www.kaspay.com/

  2. eka January 31, 2013 at 1:16 PM - Reply

    Jika sistem finnpay tidak bisa mengakomodir kebutuhan para UKM di indonesia, maka saya rasa nasibnya akn sama seperti bbrp merchant pay processor lainnya yg pernah tumbuh di indonesia.
    Anehnya, kanpa pay pay kayak gini, hanya melirik para bigdog aja, padahal trend pengusaha UKM yg sdg tumbuh ke arah digital tidak diperhatikan.
    kayaknya paypal jadi satu-satunya andalan.

    setahu saya, kaspay itu sprti rekber, kita depositkan uang di kaspay, dan suatu saat kita ingin belanja di merchant yg ada kerjasama dgn kaspay, maka kita gunakan deposit yg sudah pernah kita setor.
    Dan kayaknya hampir sama dengan klikpay di mandiri dan bca.

    saya mendambakan ada paypal versi indonesia, pengusaha bisa dapat lansung hasil jualannya. dan bisa di widraw ke bank indo..

    • noname July 14, 2013 at 3:31 PM - Reply

      saya pun mendambakan versi paypal indonesia, dimana seller bisa drop ke bank lokal hasil penjualannya. tapii butuh waktu juga untuk mengubah pola pikir masyarakat indonesia. simple ane ada shoponline lokal dengan omzet yang alhamdulilah cukup tinggi. 2 tahun lalu ane harus bayar orang sangat sangat mahal untuk bangun sistem shopping cart yang mumpuni yang terintegrasi dengan baik dengan shipping dan lain lain. tapi apa daya, 80% user ane selalu contact tlp dan bbm.

      “gan setoknya masih ada ?” “sis barangnya yang kemarin di diskon donk ?”

      apalagi pelanggan baru, butuh pemahaman dan jelas butuh waktu untuk mengubah pola pikir dan kepercayaan pembeli untuk lebih menggunakan sistem yang disediakan termasuk sistem payment apapun yang ada nantinya.

  3. Djoko Julyanto February 14, 2015 at 1:46 AM - Reply

    saya setuju

Leave A Response