6 Cara Optimasi Instagram untuk Jualan Online

instagram
Sumber gambar: pexels.com

Instagram menjadi media sosial yang begitu digandrungi masyarakat saat ini. Dan oleh karena itu, belakangan ini bisa dibilang saya “banting setir” dari SEO ke Instagram marketing.

Banyak hal yang menarik yang saya alami, dan hal menarik itulah yang ingin saya bagikan pada tulisan ini.

Sejujurnya, saya sempat mengira bahwa Instagram itu nggak jauh beda dengan pola di Facebook. Dan saya sempat berfikir, gampanglah buat nglakuinnya. Ya secara tulisan saya di FB saja seringkali banjir like, comment dan share.

Sayangnya, perkiraan saya meleset total. Dan hal yang paling mendasar dari itu semua terletak pada strategi.

Secara umum, pengguna media sosial Facebook memiliki kecenderungan menyukai konten yang bersifat tekstual (ya meskipun harus diakui bahwa banyak juga yang bacanya cuma sepotong). Dilain sisi, pengguna Instagram lebih memiliki kecenderungan menyukai konten yang bersifat visual. Bahkan berdasarkan pengalaman saya, percuma mau nulis caption yang panjangnya kaya rel kereta api. Ujungnya tetep dapet pertanyaan yang itu-itu aja.

So, it’s different. Totally different.

Dari situ, akhirnya saya banyak belajar hal baru. Mulai dari fotografi, hingga editing gambar. Sesuatu yang sejujurnya diluar minat dan bakat saja.

Banyak hal yang saya coba setahun belakangan ini. Entah berapa waktu, tenaga dan pikiran yang terbuang. Dan pada dasarnya, sistem saya belajar adalah dengan cara ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Tapi bedanya saya punya sebuah prinsip, ATM tujuannya adalah menganalisa bukan mencontek. Jadi hal terpenting dalam analisa saya adalah menemukan “titik lemah” dari para kompetitor saya, dan disitulah pintu masuk saya.

Pada akhirnya setelah melakukan banyak hal, saya menemukan pola “semi” baku yang masih saya terus kembangkan hingga tulisan ini saya terbitkan. Dan pola-pola tersebut kurang lebih adalah sebagai berikut:

1. Username

Sebuah pengalaman unik yang tanpa sengaja saya temukan disini.

Singkatnya, anggaplah saya membangun sebuah akun Instagram dengan nama @bixbux, dan akun Instagram ini saya tujukan untuk para praktisi SEO. Berdasarkan pengalaman saya, akun @bixbux ini akan tetap growth dari sisi followers, tapi akan sangat jauh berbeda growth-nya ketika username yang saya gunakan adalah @mastahseo misalnya.

Akun dengan username yang cenderung spesifik ke target akan lebih cepat pertumbuhan followers-nya.

2. Konten

Apapun medianya konten selalu memiliki peran penting dalam hal marketing.

Dalam urusan konten, stidaknya ada 3 poin kelemahan kompetitor yang bisa jadi senjata saya.

  • Konten hasil repost
  • Konten ngasal
  • Manajemen konten yang ngasal

Terkait konten hasil repost ini, jelas ini merupakan celah saya untuk lebih “pro” dari sisi konten. Untuk itu saya bela-belain untuk belajar fotografi dan editing.

Terkait konten yang ngasal, saya melihat begitu banyak orang yang hanya sekadar upload gambar seadanya. Hasil penelitian saya soal ini yang paling berantakan adalah ketika melakukan upload terkait testimoni. Ngasal, asal capture dan upload. Hasilnya ya reaksi orang biasa-biasa aja.

Beda kalau testimoni kita packing dengan design yang bagus. Misalnya seperti ini.

Poin ketiga adalah manajemen konten. Ini juga sangat banyak yang berantakan.

Saya dulu sering bertanya ke diri saya, kenapa akun A dan akun B ini bisa beda hasilnya. Alhasil saya menemukan sebuah jawaban ketika ngobrol dengan salah satu orang yang namanya gak mau saya sebut.

Dan jawabannya adalah pada manajemen konten.

Pengguna Instagram itu suka kepo, suka scrolling timeline sebelum akhirnya memutuskan buat follow. Dan tentunya keputusan mereka untuk mengikuti sebuah akun adalah menyukai kontennya dan menunggu update terbarunya.

Misalnya kaya akun dibawah ini, asik gitu ngeliatnya.

Gambar: @nikelab/Instagram

Terkait manajemen konten ini, secara garis besar kita harus memahami penataan konten yang baik. Singkatnya, Instagram menampikan daftar gambar dalam format 3 kolom. 3 kolom ini harus kita atur sedemikian rupa agar menarik ketika orang kepoin akun Instagram kita sebelum follow.

Misalnya jika pada baris pertama kita fokus ke foto produk, isi 3 kolom tersebut dengan gambar produk kita. Baru kemudian nanti pada baris kedua, kita mengisi 3 kolom misalnya untuk konten edukasi atau testimoni.

Dengan begitu akan ada nilai seni dari konten kita, dan bukankah itu tujuan Instagram dibuat?

3. Hastag

Pada dasarnya, ini teknik basi. Cuma saya ingin menekankan bahwa gak semua hastag itu efektif. Pemilihan hastag tidak bisa berdasarkan seberapa banyak orang yang menggunakan. Jadi harus tepat dalam memilihnya.

Anggaplah ada sebuah hastag yang digunakan jutaan orang, tapi ternyata orang-orang yang menelusuri hastag tersebut adalah sesama penjual. Jadinya salah sasaran bo.

Untuk urusan hastag ini, memang kita harus melakukan analisa yang mendalam. Umumnya saya menggunakan hastag dengan memanfaatkan sedikit pengetahuan saya di dunia SEO.

Di SEO, kita mengenal istilah search intent, sebuah teknis dalam menentukan kecenderungan sebuah keyword.

Misalnya: Kursus SEO dan Belajar SEO. Keduanya serupa, tapi memiliki search intent yang berbeda. Orang yang mengetik kursus SEO memiliki kecenderungan untuk mencari tempat kursus SEO berbayar, sementara orang yang mengetik belajar SEO memiliki kecenderungan untuk mencari tutorial gratis.

Begitupula dengan sebuah hastag di Instagram.

Selain hal diatas, kita sebenarnya juga bisa menggunakan hastag berdasarkan keyword yang umumnya digunakan orang untuk mencari informasi di Google. Bisa gunakan tools dari Google seperti Keyword Planner, Google Trends, atau tools berbayar seperti misalnya ahrefs dan semrush.

4. Auto DM ke Followers baru

Ini juga teknis basi. Tapi satu hal yang saya modifikasi disini adalah mengarahkan followers baru ke landing page.

Hi @username, terima kasih sudah mengikuti @bixbux. Jika Anda penasaran dengan produk kami, silahkan kunjungi bixbux.com untuk membaca detil lengkapnya ya 🙂

Tujuannya jelas, custom audience untuk FB/IG Ads. Untuk ini, saya pribadi menggunakan tools buatan tim saya sendiri (dan tidak untuk dijual). Tapi diluaran sana ada banyak yang menjual.

5. Upgrade ke Akun Bisnis

Ya, ini poin penting agar kita tahu statistik dari akun yang kita kelola. Dari situ, kita bisa melihat konten-konten mana yang efektif, kemudian selanjutnya kita bisa membuat konten yang serupa. Kita juga bisa tahu jam-jam efektif posting dengan akun bisnis.

6. Konsisten

Ini kunci terakhir. Tanpa ini percuma.

Bagi saya, hal terpenting dalam membangun sebuah bisnis adalah sustainable and growth. Bukan mati terus bikin lagi. Untuk itu, penting untuk serius dan konsisten.

Yuk dapetin update email penuh cinta dari BixBux

Artikel terkait

3 Komentar

  1. Mantap banget artikelnya. Sedikit banyak sudah kami terapkan di akun bisnis kami. Dan memang dengan cara ini akun bisnis bisa terlihat profesional.

    Ditunggu artikel berikutnya.. 🙂

  2. Bagus sekali artikelnya mas airul…

    Kebetulan lagi mau meluncur ke instagram juga ini.. pakai konsep yang berbeda sedikit dari yang ada hehehhe… Mau buat, Instagram bukan untuk jualan, tapi untuk branding aja :gembira:

    Saya menunggu artikel jenengan berikutnya….

Berikan komentar

Email Anda tidak akan kami publikasikan. Wajib diisi *