weapon photo
AppInstall. Salah satu produk yang dapat di promosikan di mobile-affiliate-marketing adalah produk AppInstall. Kita bisa memilih berbagai macam aplikasi di adnetwork untuk dipromosikan. Bayarannya beragam. Rata-rata di bawah $0.5 per install. Ada juga yang diatas itu walaupun gak banyak. AppInstall ini yang membuat industri affiliate marketing, terutama yang mobile, disebut sebagai permainan BIG number. Karena untuk mempromosikan AppInstall kita memerlukan traffic yang sangat massif dan tertarget.

Tahun 2014 dan 2015 adalah tahunnya AppInstall. Banyak sekali produk dengan KPI (Key Performance Index) berupa CPI (Cost per Install). Bahasa sederhananya, banyak aplikasi yang ingin penetrasi pasar ke berbagai negara di dunia. Mulai dari antivirus, social media, productivity apps sampai dengan browsers. Secara industri, para penguasa besar aplikasi di dunia menghasilkan banyak uang untuk diri mereka sendiri, tetapi untuk dunia affiliate marketing, mempromosikan AppInstall menjadi seperti roller coaster.

Saya masih ingat ketika memulai campaign untuk Baidu Browser di Indonesia. Dengan budget yang sedemikian besar, raksasa dari Tiongkok ini penetrasi besar-besaran di negara kita ini. Semua jenis traffic dihajar. Yang menguasai pop-up sampai dengan pop-under, bahkan ditambah sedikit adult traffic sangat berjaya pada masa itu. Mereka berani mengeluarkan pay out $0.5 per install di android. Laris kayak kacang goreng. Contoh lain adalah Psafe. Antivirus pabrikan Brasil ini juga berkuasa di Amerika Latin. Gak susah nyari profit $300 per day lewat PopAds, Airpush atau AdCash pada saat itu.

plcSekarang ini semua jenis AppInstall sudah tidak lagi seperti dahulu. Ehm, inilah digital marketing, perubahan sedemikian cepat. Industri aplikasi sudah mencapai masa nyaris maturity (matang). Untuk pabrikan aplikasi yang besar, fase growth (pertumbuhan) sudah mereka lewati. Ada yang sukses, banyak juga yang gagal. Sekali lagi, jangan salah. Secara industri, aplikasi masih sangat menjanjikan. Pendapatan iklan dari aplikasi, atau growth-hacking (yang bertujuan untuk dijual) terus dilakukan karena tren-nya juga mengalir.

Setelah rombongan aplikasi browser (opera mini, UC browser, Baidu browser, dll), kemudian disusul dengan antivirus dan utility (Psafe, 360 Security, DU Battery Saver, DU Speed Booster, dll) sekarang ini aplikasi e-commerce (Lazada, Zalora, Reebonz, MatahariMall, dll) mulai nongol. Beberapa sudah lama wara-wiri, tapi banyak juga yang baru. Kemungkinan di Quarter 3 tahun 2016 nanti aplikasi utility dan antivirus akan ada pick-up lagi, tapi dengan tingkat KPI yang lebih tinggi. Ini tantangan buat setiap affiliate marketer untuk dapat merumuskan angle baru lagi.

Jadi, appinstall akan semakin berat. Ini beberapa hal lain yang membuat mereka tidak lagi ranum :

1. Dahulu standar KPI (key performace index) di Appinstall sangat mudah. Mereka meminta retention rate 8-10% saja, bahkan ada yang cuma 5%. Retention rate adalah ukuran seberapa besar pengguna smartphone yang meng-install aplikasi, dan tidak segera menghapusnya. Semakin banyak yang meng-un-install berarti tingkat retention rate-nya semakin rendah. Nah, rendahnya retention rate ini biasanya adalah akibat dari landing page atau bahkan campaign kita yang mis-leading. Artinya, pengguna tidak merasa ditipu kemudian langsung un-install lagi. Kalau campaign/landing page kita tidak misleading, berarti aplikasi yang kita promosikan tidak memberikan value yang tepat kepada penggunanya. Bisa jadi karena salah sasaran (salah membidik market), atau memang aplikasinya yang jelek.

360sec

2. Dari nomer 1 di atas, berarti kalau ada advertiser yang meminta retention rate 5%, artinya dari 10.000 install yang kita sudah lakukan, mereka hanya meminta 10.000×5%= minimal 500 penginstall saja yang terus menyimpan aplikasi itu. Itu dulu. Sekarang ini aturan menjadi semakin ketat. Banyak advertiser yang meminta minimal retention rate 25%-40%. Gila gak tuh. Kalau dari campaign kita cuma bisa ngasih rate 20% misalnya, artinya payment kita akan dipotong sekian persen dari yang kita hasilkan. Ada juga yang advertiser yang memberikan aturan, kalau retention rate di bawah 25% payment dipotong sekian, kalau diantara 25%-30% dipotongnya segini, begitu aja terus. Makin ribet. Udah tinggalin aja.

Baca juga : Panduan Promosi Offer Email Submits untuk Pemain Pemula CPA

3. AppInstall dan Game Install itu sangat tergantung sama budget dari advertisernya. Setelah sekian lama di affiliate marketing, anda akan mengerti bahwa adverstiser mengeluarkan budget berdasarkan kepada annual planning mereka. Biasanya dalam setahun mereka membagi menjadi 4 tahap. Budget awal dikeluarkan pada Quarter 1 (Q1) = bulan Januari-Maret, Q2 mulai di April-Juni dan Q3 di Juli-September dan Q4 di bulan Oktober-Desember. Artinya gini, kalau target install di Q1 sudah terpenuhi di hari-hari awal bulan Januari, ya mereka akan dengan mudah untuk menginstruksikan campaign-pause kepada adnetwork. Lebih edan lagi. Mereka mem-pause-nya gak pake ancang-ancang. Biasanya tiba-tiba saja gitu. Jadi bayangkan kalau kita sedang split-test dan optimasi campaign, tiba-tiba advertiser minta di pause. Campaign belum maksimal, profit belum keliatan tapi offer-nya sudah di pause. Rasanya pengen jedotin kepala ke tembok. Dot!

4. Entah kenapa, traffic AppInstall adalah traffic yang paling gampang dikatain fraud oleh advertiser. Bedanya dengan sweeptakes atau pin submit yang konversinya ‘pasti’, AppInstall tidak seperti itu. Memang iya, konversi di setiap install dari aplikasi tidak bisa dibohongin, tapi ada aja alesan advertiser yang nakal. Ada yang bilang traffic-nya gak sesuai lah, low quality-lah sampai dengan alesan klasik meminta quality check dari traffic kita. Kalau sudah mulai muncul yang beginian, peran AdNetwork/Affiliate Network menjadi sangat besar. Ada 3 (tiga) hal biasanya menjadi reaksi dr adnetwork. 1) Ada beberapa Adnetwork yang gak ngebelain kita karena takut kehilangan advertiser. Mereka justru menyalahkan kita karena traffic kita (menurut mereka) kurang bagus. Dari pengalaman saya, biasanya Network dr China melakukan ini. 2) Network memilih untuk menunggu respon dari advertiser. Payment kita dipending sambil menunggu mereka dibayar oleh advertiser. Ini, kalau bahasa saya, adalah Network yang gak mau nanggung resiko. Bermain aman. Dan yang ke 3) adalah Network yang membela affiliate-nya. Mereka akan berjuang ke advertiser dan tidak ragu-ragu untuk membayar affiliate-nya walaupun advertiser mem-pending bayaran. Kalau ada advertiser seperti ini, malah mereka yang di banned, bukan affiliate nya. Biasanya adnetwork eropa/amerika nih yang begini. Mereka Adnetwork gede dan udah punya nama.

Baca juga : 6 Hal Yang Paling Dibenci Oleh Affiliate Marketer. Pasrah Atau Protes?

5. Aturan dari Google Play atau AppStore yang semakin ketat. Ketika banyak complain yang masuk tentang satu aplikasi, maka baik Google Play atau AppStore dapat dengan mudahnya mem-banned aplikasi tersebut. Ini bisa terjadi ketika ada banyak affiliate yang memakai campaign dan landing page yang sangat mis-leading, kemudian ada banyak peng-install dari aplikasi tersebut memberikan bad review dan bad comments di Google Play atau AppStore (karena tidak sesuai dengan harapan mereka). Jadi advertiser harus benar-benar bekerja keras untuk tetap berada dalam jalur aturan main yang berlaku. Bad news untuk affiliate, if you know what i mean. *evil grin*

Saya jadi inget wanti-wanti @HughHancock alias Caurmen pada saat Affiliate World Asia di Bangkok bulan Desember lalu. Hindari offer-offer AppInstall dan Game. Ya yang saya jelaskan itu lah penyebabnya. Semoga bermanfaat!

Yuk dapetin update email penuh cinta dari BixBux

Tags: , , ,

ABOUT THE AUTHOR:

CEO of EntroBuzz. Passionate affiliate marketer. Coffee trailblazer. Believe in idea, creativity and rock ‘n roll. Find me on Google+, Facebook, Instagram, or Twitter @WRahMada.

14 Comments on this article. Feel free to join this conversation.

  1. aryo January 20, 2016 at 9:21 AM - Reply

    betul juga sih banyak yang fraud install, soalnya aku punya teman sehari bisa install satu aplikasi untuk beberapa api key dalam satu hp android. Jadi konsepnya install-uninstall terus hanya untuk mengumpul dolar2 itu …

    #Eh nyambung ngga sih komentnya ? Hahahaa

    • Wientor Rah Mada January 20, 2016 at 12:36 PM - Reply

      Ini sih parah. Jelas traffic fraud, ketahuan IP nya pasti sama

  2. Doni January 20, 2016 at 10:32 AM - Reply

    Salam Kenal Mas Wientor,

    Saya pembaca blog anda serta banyak belajar dari blog ini mengenai CPA.

    Untuk offer yang sepertinya bagus di tahun ini kan kemarin sempet baca yaitu infoproduct dan sweeps.
    Mau tanya mas, contoh offer infoproduct itu yg seperti apa ya?

    Kemudian sempat ada yang bilang juga, untuk tahun ini native ads akan kembali hot. Boleh sharing tentang native ads gak mas.

    Oh ya, ada rekomen pelaku affiliate di daerah depok atau bogor gak mas?
    saya butuh temen sharing dan diskusi nih ^_^

    Terima kasih banyak mas.

    Salam,
    Doni

    • Wientor Rah Mada January 20, 2016 at 12:39 PM - Reply

      Infoproduct? Apaan ya? Gak ngerti mas. Kalo call center iya, katanya bagus.
      Native ads aku cobain dulu ya mas, baru di sharing. Calling affiliate marketer Depok dan Bogor!! Networking nihh..bikin mastermind 🙂

  3. Exxo January 20, 2016 at 2:26 PM - Reply

    Superb Article! Thank you!

    Saya ingin komen kecil saja,

    Retention Rate juga bikin saya pusing, dan ini adalah hal yang selalu saya pikirkan dalam pembuatan “Angle”.

    Hal yang saya tahu, adalah Retention Rate dalam dunia App Installs merupakan rate user yang terus menggunakan applikasi tersebut. Setahu saya bukan jumlah orang yang “keep” the app on their phone.

    Contoh, saya membawakan 10.000 installs, di hari ke 3 (Day 3 Retention Rate) hanya ada 1000 orang yang terus menggunakan app tersebut, walaupun 9000 orang lainnya tidak uninstall dan tetap memiliki app tersebut di HP mereka, Retention Rate saya hanyalah 10%.

    Dan 1 lagi, Retention Rate tidak hanya bergantung pada traffic quality yang dibawakan oleh affiliate, tapi juga tergantung oleh the quality and usefulness of the App itself.

    Dari situ, saya biasanya lebih memilih app yang payoutnya hanya <0.20 tapi App qualitynya bagus dan cocok untuk jenis traffic yang saya bawakan- karena saya yakin bahwa Retention Rate saya akan tetap memenuhi persyaratan, dari pada saya promote apps yang payoutnya besar tapi traffic saya tidak cocok dan Retention Rate saya rendah.

    Yang bisa kita lakukan juga adalah, bawa traffic dalam skala kecil, request ke affiliate network untuk check traffic quality kita, kalau mereka bilang OK, baru kita scale up habis-habisan.

    Just my 2 cents,

    Salam Kenal,
    Exxo

    P.S. This blog is awesome for Indonesian. You're helping a lot of people dude.

    • Wientor Rah Mada January 22, 2016 at 5:46 AM - Reply

      Hey Exxo, thks for the heads up! Keep grinding bud!

  4. Yadhi Irmawan January 21, 2016 at 12:34 PM - Reply

    Sharing yang sangat berguna buat Saya

    Pak Wientor,
    jadi tahun 2016 ini jenis offers apa yang cocok dijalankan? (terutama untuk affiliate pemula)

    • Wientor Rah Mada January 22, 2016 at 5:49 AM - Reply

      Pemula atau veteran ga masalah mas. Jenis traffic yg dipunya itu yang harus diperhatikan. Baru dicocokin sama offernya 🙂

  5. Yadhi Irmawan January 22, 2016 at 11:04 AM - Reply

    Kalau saya pakai traffic dari FB Ads, kira-kira jenis offers/vertical apa yg cocok pak ?

    • Wientor Rah Mada January 22, 2016 at 8:34 PM - Reply

      diets, casual dating, sweeptakes, nutra, skin 🙂

  6. Agus Triana February 14, 2016 at 9:26 PM - Reply

    Hai, salam kenal gan

    Saya sebenarnya agak sering ke blog agan, untuk belajar mengenal afiliate dan bisnis online lainnya…

    Saya sangat merasa terbantu atas semua artikel agan semua

    Salam hangat gan dari blogger pemula seperti saya ini, keep spirit ajah gan

  7. Aaron May 19, 2016 at 5:19 PM - Reply

    nice blog mas Wientor. Sudah jadi premium member di forum STM tapi ujung2 larinya tetap ke sini wkwkw

    newbie banget jadi kudu cerna dlu basic2 affiliate cause i’m so into it.

    keep writing mas, and thanks!

Leave A Response