Inilah Mengapa, Bisnis Travel Agent Anda, Tidak Akan Bisa Mengalahkan Traveloka

Kemarin, saya melihat status Facebook seorang teman yang ‘teriak’ karena harga tiket di Traveloka yang dibanting rendah. Rupanya selama ini dia menggeluti usaha travel agent. Usahanya tergerus karena disrupsi Traveloka yang tidak bisa dihindari.

Sebetulnya saya sudah memperingatkan ini dari 4-5 tahun yang lalu. Terutama apabila sedang mengajar di kelas atau sedang ngobrol dengan teman-teman dari ASITA (Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia). Beberapa dari mereka mulai mengubah bisnis modelnya, beberapa dari mereka memilih bertahan dengan yang ada. Kebanyakan yang retensinya tinggi kemudian menyesal di kemudian hari.

Pertanyaannya adalah : Apakah mungkin mengalahkan Traveloka?

Saya jawab saja, untuk saat ini rasanya startup unicorn itu tidak akan bisa dikalahkan oleh perusahaan yang berbasis travel agent konvensional. Harus oleh perusahaan yang sejenis, tetapi berbeda bisnis model.

Gambar : Storyblocks

Traveloka yang baru berdiri tahun 2012, (bandingkan dengan travel agent konvensional yang biasanya sudah berdiri bertahun-tahun dan dikelola keluarga) tahun lalu masuk ke kategori StartUp Unicorn bersama dengan Tokopedia dan Gojek. Tahun ini, pada bulan Januari 2018 lalu, Bukalapak menyusul.

Gelar Unicorn diberikan kepada StartUp yang mempunyai valuasi (nilai dari perusahaan itu, bukan hanya pendanaan yang masuk) lebih dari $1 miliar.

Traveloka secara industri masuk ke kategori Online Travel Agent (OTA) dan sangat menguasai traffic lokal. Kalau anda bekerja di sales hotel pasti mengerti betul bahwa segmen market yang datang dari OTA ini adalah lokal. Banyak hotel bintang 3 ke bawah yang mayoritas tamu-nya datang dari Traveloka.

Kebanyakan hotel independent lokal, atau chain grup lokal. Yang menarik sekarang ini bahkan berapa hotel chain internasional sudah mulai bergantung kepada Traveloka. Rata-rata mereka menguasai traffic OTA sekitar 60% dari total segmen market itu di sebuah hotel.

Mari kita pahami dahulu bisnisnya. Secara umum, Traveloka adalah makelar juga.

Do they own the products? No.

Jadi, mereka ini sama persis dengan travel agent konvensional. Persentase komisi yang didapat juga hampir sama. Rata-rata berkisar antara 12%-17% per tamu hotel. Kalau tiket pesawat lebih sadis lagi. Komisi yang di dapat penjual tiket hanya berkisar antara 2%-3,5% dari NTA (Nett to Agent). Memang masih tergantung dari maskapai mana, tetapi rata-rata segitu komisinya. Saya tidak tahu kalau tiket kereta api atau tiket konser berapa yang meraka dapat.

Tanda-tanda memudarnya bisnis travel konvensional sudah terbaca dari tahun 2010. Ini beberapa diantaranya :

1. Walaupun secara bisnis mereka masuk ke kategori Online Travel Agent, tetapi karena memulai sebagai startup teknologi, Traveloka sangat fokus kepada teknologi yang dipakai. Salah satu foundernya, Ferry Unardi, lulusan computer science & engineering dari Purdue University walaupun dropout dari S2 di Harvard. Co-founder yang lain, Derianto Kusuma lulusan dari Stanford University yang pernah bekerja di LinkedIn, serta Albert Zhang yang juga lulusan dari Amrik.

Perusahaan ini digawangi dan dimulai oleh 3 orang anak tajir yang kuliah di Amerika dan sangat fokus di teknologi.

Pada saat itu, di tahun 2012-2014, di Amerika sudah berkembang bisnis yang sama dengan penguasa pasarnya hanya 4 (empat perusahaan), yaitu Expedia, Priceline, Orbitz dan Travelocity. Expedia (Yang akhirnya tahun 2017 menyuntik dana $350 juta ke Traveloka) menguasai dengan 40% market share, disusul Priceline (Yang tahun 2005 membeli Booking.Com dan digabungkan dengan Active Hotel, kemudian di tahun 2007 membeli Agoda diteruskan di 2012 membeli Kayak).

Jadi, ketika ketiga foundernya memulai Traveloka, pengalaman mereka di Amerika sangat mempengaruhi cara berpikir awal bisnisnya. Saya membayangkan move awalnya adalah ketika mereka di Indonesia dan ingin memesan tiket pesawat tapi tidak praktis dan susah. Mereka coba cari di Expedia, Priceline atau yang lainnya tapi harganya gak keruan karena bukan direct agent. Kemudian semuanya berawal dari obrolan awal : Hei bro, asik banget kalo di Indonesia bisa pesen tiket pesawat dari aplikasi nih. Duer!

Baca juga : Mengapa Hotel Selalu Kalah di Pertarungan Online Market Dengan OTA? 

2. Yang terjadi di Indonesia pada saat itu, tahun 2012, AirAsia sudah ‘memutus hubungan’ dengan travel agent. Mereka mendorong setiap pelanggannya untuk melakukan booking langsung tiketnya di websitenya. Waktu itu AirAsia menjadi sangat booming karena strategi pemasaran mereka sangat agresif dan selalu menyertakan harga yang sangat murah. Strategi ini kemudian diterapkan secara sama persis ke anak perusahaan mereka yang bergerak di bidang hotel : Tune Hotels. Saat itu, traffic ke travel agent konvensional mulai sangat menurun. Gerakan booking sendiri ini kemudian diikuti oleh Lion, Garuda dan berbagai maskapai lainnya. Travel agent ‘berteriak’ kencang!

3. Kenyataan yang paling menyakitkan adalah : tidak ada satupun travel agent lokal yang kemudian bergerak menyesuaikan dengan kondisi jaman. Travel agent konvensional yang biasanya dimiliki secara turun temurun, beberapa masih ada yang di generasi pertama dan beberapa sudah ada yang dikelola oleh generasi kedua. Ada sih travel agent yang berupaya untuk menguasai supply chain, seperti Panorama Tours (yang memutuskan untuk membangun chain Hotel 101), tapi tidak semua biro perjalanan wisata itu mempunyai kekuatan finansial dan sumber daya seperti Panorama.

Contoh tanda-tanda runtuhnya para ‘middleman’ ini begitu jelas. Oleh karena itu, setiap disrupsi harus dikalkulasikan dengan reaksi yang berbeda. Panorama sudah dengan sangat jelas menambahkan line bisnis-nya lebih ke hulu dengan membangun jaringan hotel. Tetapi itu tidak menyurutkan kenyataan bahwa bisnis Online Travel Agent (OTA)-nya : Bookpanorama.com juga tidak berkembang dengan baik (baca : mati suri).

Gambar : Marketeers

Situs booking online milik Panorama ini memulai dengan strong dan bekerjasama dengan Booking.com. Iklan muncul dimana-mana tetapi rupanya nafasnya tidak panjang. Dugaan saya : OTA ini masih di-manage dengan pola pikir travel agent konvensional, jadi tetapi saja tidak dapat bersaing dengan Traveloka (yang di-manage dengan pola pikir startup).

Pola pikir ini yang membuat Traveloka berkembang dengan cepat. Daur hidup sebuah startup memang sangat bergantung pada ‘growth’, kepada users dan installers, dan bukan kepada profit/revenue. Sampai dengan saat ini masih tidak ada keterangan berapa profit yang dihasilkan oleh Traveloka. Yang ada adalah berapa pendanaan yang sudah mereka terima.

Kalau anda adalah pebisnis dengan pola pikir old, you will never understand. Bagaimana mungkin dana diterima banyak, tapi tidak ada satu orangpun yang menuntut profit?

Sudahlah, tidak akan kuat, biar mereka saja 🙂

Nah, tetapi setidaknya ada beberapa hal yang membuat Traveloka dan beberapa OTA yang lain menjadi melambung dan menghantam telak travel agent konvensional.

1. Funneling yang sangat user friendly. Setidaknya, bagi anda yang sudah mempunyai aplikasi Traveloka, Agoda, PegiPegi atau OTA yang lain, hanya memerlukan 4-6 tap (klik) saja untuk memesan kamar di hotel yang anda pilih. Lebih detail lagi, Agoda hanya 4 klik, sedangkan Traveloka 6 klik. Selain itu, setelah pemesanan pertama, data anda akan disimpan dan dapat dipergunakan untuk pemesanan selanjutnya. Sangat mudah dan menyenangkan.

2. Refund policy untuk tiket pesawat. Ini saya sangat suka. Saya tidak perlu berhadapan dengan customer service yang lama dan bisa memakan waktu ber jam-jam. Refund di Traveloka berlangsung sangat cepat, tidak bertele-tele dan bahkan tidak memerlukan birokrasi berbelit. Semua dilakukan di aplikasi.

Terakhir kali saya membeli tiket ke Bandung dari Jogja dan tidak jadi dipakai. Proses refund-nya berlangsung mulus dan tanpa hambatan walaupun saya harus dipotong 50% dari harga tiket. Saya toh mengerti itu potongan adalah kebijakan dari pihak maskapai yang tidak bisa dihindari. Saya bahkan tidak harus menjelaskan apa-apa ke siapa-siapa. Pengalaman saya, refund policy ini tidak berlaku di semua bookingan hotel. Hanya di tiket pesawat saja.

3. Dahulu OTA masih kesulitan penetrasi karena belum mempunyai layanan reservasi satu hari (layanan booking kamar untuk hari yang sama pada saat memesan). Jadi ketika anda memesan, masih ada saja kemungkinan voucher belum terkirim dari OTA ke hotel. Tetapi sekarang ini sudah teratasi dengan baik. Untuk memesan kamar nanti malam anda bisa booking di aplikasi pada jam yang sama. Ini tidak bisa terjadi di travel agent konvensional dalam mengeluarkan voucher hotel.

4. OTA jaman now berani memakai sistem ijon. Ini sudah kayak bermain komoditi saja. Traveloka dengan memanfaatkan lemahnya cash flow hotel (biasanya hotel bintang 3 ke bawah, dan independen hotel) menawarkan sistem Floating. Mereka menawarkan deposit, misalnya 750 juta, yang dibayar di depan dengan Cut Off Date 0. Sistem yang sama sudah lama diterapkan di industri penerbangan, travel agent harus memberikan deposit agar bisa mereservasi dan meng-issued setiap tiket yang dibeli pelanggannya.

Yang nomer 4 ini adalah titik kemenangan bagi Traveloka yang mempunyai dana luar biasa besar. Hubungkan dengan paragraf di atasnya yang tidak ada tuntutan untuk profit bagi Traveloka. Bukan kah ini menjadi hal yang bikin pening kepala? Bagaimana bisa mengalahkan mereka? Apa yang harus dilakukan?

Selain dana, apa sebetulnya keunggulan bersaing yang dipunyai Traveloka? Hanya satu : TRAFFIC!

Setelah menjamurnya OTA lokal, banyak travel agent konvensional yang bergegas membangun website dan bahkan ada yang membuat aplikasi. Beberapa payment gateway lokal juga banyak yang menawarkan bantuan untuk membuatkan website dan aplikasi. Mereka pikir dengan mempunyai website pelanggannya akan balik lagi.

Ternyata tidak semudah itu. Website yang dibangun kemudian berkesan asal-asalan dengan kualitas webqual yang amburadul. Pemilik bahkan tidak paham tentang statistik pengunjung web, tidak paham pemasaran online dan gagal mengerti tentang bagaimana drive traffic ke websitenya. Ujungnya sudah terlihat jelas : domain kelupaan diperpanjang dan mati.

Jadi kesimpulannya, kalau anda mempunyai travel agent konvensional dan merasa tergerus oleh Traveloka, segera anda harus merubah model bisnis yang selama ini dijalankan.

Anda tidak akan bisa menang bersaing dengan Traveloka. Sekali lagi, anda tidak akan menang lawan Traveloka.

Kalau anda jualan tiket pesawat, harga yang anda dapat dari sistem, belum tentu mengalahkan harga yang ditawarkan Traveloka kepada market FIT-nya (Free Individual Traveller). Sudah menjadi kejadian yang sangat sering, Traveloka memotong komisinya menjadi sangat tipis, bahkan menjadi nol atau bahkan minus pada saat berlangsung promo. Bertarung di medan perang yang Traveloka punya, sama saja dengan bunuh diri.

Ingat sekali lagi, mereka tidak ada kewajiban (atau belum ada) untuk mendapatkan profit. Apa yang terus menerus mereka cari? Traffic. Baik dari Daily Active Users (DAU) maupun dari Monthly Active Users (MAU), kemudian Big Data tentang pola perjalanan pasarnya.

Saya berkeyakinan penuh, Traveloka mempunyai data yang lebih valid tentang pergerakan wisatawan domestik, daripada Kementrian Pariwisata yang saat ini membutuhkan banyak data untuk membuat keputusannya.

Jadi apa yang harus dilakukan kalau saat ini anda sedang mengelola travel agent konvensional? Ini adalah beberapa saran yang akan menyelamatkan anda dari disrupsi teknologi perjalanan.

1. Segera ubah model bisnisnya. Kalau anda masih mengandalkan tiket pesawat dan bookingan hotel, segera mungkin switch pasar anda ke korporat atau pemerintahan. Pasar jenis ini masih membutuhkan travel agent konvensional dikarenakan sistem pembayaran yang bisa mundur. Kalau anda di daerah, bidiklah kantor-kantor pemerintahan, sekolah-sekolah untuk studi tour atau kantor DPRD atau kantor perwakilan Bank yang ada di kota anda.

Tawarkan sistem pembayaran bulanan atau mingguan yang lebih fleksibel. Biasanya hal ini akan diterima dengan baik di kantor pemerintahan dikarenakan sistem keuangan negara yang me-reimbursh biaya perjalanan pejabatnya, sehingga Due Date untuk pembayaran menjadi sangat penting. Setelah anda masuk dengan tiket dan voucher hotel, tawarkan tour untuk karyawannya. Bisa lewat koperasi atau perkumpulan serikat kerja yang ada didalamnya.

2. Beruntunglah anda yang selama ini berada di bisnis Haji Plus dan Umroh. Bisnis ini hampir tidak terganggu dengan membesarnya Traveloka. Segera switch bisnis anda menjadi penyedia layanan haji dan Umroh, ini juga bisa menyelamatkan bisnis travel agent anda.

3. Menyarankan kepada anda untuk fokus di paket wisata seperti menggarami air laut. Pasti hal ini sudah dilakukan. Tetapi jenis paket wisata seperti apa yang banyak dicari? Selain paket wisata tur ke beberapa tempat yang mainstream, mulailah buat paket wisata yang non-mainstream. Sudah banyak obyek wisata baru yang bermunculkan dikarenakan sosial media yang memberitakan demikian cepat. Cari dan buat paketnya. Saat ini bahkan ada sekelompok anak muda yang sedang membuat paket wisata Dilan 1990. Napak tilas perjalanan Dilan.

4. Buat Open Trip. Ini sedang ngetren. Banyak perusahaan perjalanan dadakan, biasanya bentukan selebgram atau selebtwit yang menawarkan Open Trip dengan biaya yang terjangkau. Golongan milenials saat ini mempunyai banyak uang. Millenials yang baru saja bekerja mempunyai uang terbatas tetapi keinginan jalan-jalan yang menggelora. Mereka tidak ingin bepergian dengan kakek-kakek atau nenek-nenek atau orang-orang tua seperti di paket wisata mainstream, tetapi mereka ingin pergi dengan teman sebaya agar biasa berbagi cerita sepanjang jalan.

Open Trip mengejar Aurora di Islandia atau treking di Nepal adalah salah dua yang paling banyak dicari. Kalau anda travel agent konvensional, ajaklah selebgram/selebtwit dalam perjalanan. Millenials suka mengenal idolanya secara langsung dan berinteraksi tatap muka.

5. Kalau anda masih memiliki capital, keluarlah dari bisnis tiket dan voucher hotel. Selain fokuskan ke paket wisata, juga pecah divisi bisnis travel anda menjadi lebih kecil (tapi banyak). Misalnya, berubahlah menjadi perusahaan penyedia layanan transportasi (motor, mobil, elf atau bahkan bis) atau kalau perlu belilah lahan dan ubahlah menjadi bisnis hotel (seperti yang dilakukan Panorama). Kuasai supply chain di bisnis ini dengan gagah berani.

Kalau setelah penjelasan ini anda masih berusaha untuk mengejar Traveloka, selamat berpeluh-peluh ria. Kecuali anda mempunyai uang yang banyak sekali atau jaringan yang luas sekali.

Sekali lagi saya tuliskan disini, Traveloka tidak akan terganggu oleh bisnis anda, tetapi mereka akan terganggu oleh invisible competitor yang mulai merangsek masuk : AirBnB.

Aha!

Yuk dapetin update email penuh cinta dari BixBux

Artikel terkait

111 Komentar

  1. Menarik Sekali.

    Saya juga jadi berpikir apakah bisnis saya akan mengalami perubahan drastis seperti itu.

    Dan yang paling penting, bagaimana berubahnya agar kami masih tetap eksis di tahun tahun berikutnya.

    SAlam Kenal,
    Luki TransWISH

  2. OTA idealnya pake sistem API. Kenapa ideal? Karena dia langsung terhubung dengan sistem maskapai. Terlebih untuk domestik yg banyak tidak tersedia di GDS. Jadi harus langsung request ke maskapai satu satu. Masalahnya tidak mudah mendapatkan API. Finansial yg kuat dan ilmu IT yg dewa saja tidak cukup. Memang kata kuncinya traffic, tp gimana bisa menciptakan traffic kalo API nya tidak dikasih untuk dimasukkan ke dalam web OTA. Seandainya maskapai mempermudah mendapatkan API atau sistem domestik banyak terdapat di GDS seperti di pasar internasional, saya yakin lebih banyak startup yg capable untuk bersaing dengan traveloka. Setidaknya itu menurut pandangan saya.

  3. Tulisannya bagus sekali mas Wientor.

    Saya adalah penggiat dan mentor startup startup lokal. Tapi sekarang dunia startup sudah menjadi dunia para high financier jor joran menggelontorkan dana ke startup yang itu itu saja.

    Akhirnya Indonesia hanya jadi tempat investor investor asing kuat kuatan capital dan rakyat hanya menjadi penonton dan consumer.

    Pemerintah yang seharusnya melindungi ekosistem startup lokal malah memasukkan bos eCommerce tiongkok sebagai penasehat.

    Data is the new oil. Siapa yang menguasai data dan informasi akan menjadi penguasa masa depan. Semua startup unicorn kita dimiliki asing. Anak cucu kita ke depan sepertinya akan bersimpuh lagi ke orang asing.

    Berpikir positif, inovatif dan merubah model bisnis, ini adalah mantra yang setiap hari saya ucapkan sebagai mentor.

    Tapi apakah ruling class dengan top notch education dari ivy league Amerika dengan dukungan pendanaan yang tidak terbatas juga tidak memikirkan hal yang sama??

    1. Orangbyg punya bisnis triliunan, cara berikirnya berbeda degan yg punya bisnis milyaran. Yang bisnis milyaran juga berbeda dengan yang bisnis jutaan. Kita tidak bisa menyalahkan mereka hanya karena pola pikir bisnis-nya berbeda.

  4. saya juga sedang memulai usaha travel agent, ya bermodal bismillah …… insya allah semuanya lancar..
    bismillah cari pelanggan
    bismillah promosi
    bismillah utk istiqomah
    bismillah utk sedekah ….

    hehehe….. ulasanya sangat mantap dan gurih, bisa jadi bahan pertimbang untuk bisa join (red. kerjasama) denganberbagai lini peneydia liburan n trip…

    maksih bnyk info dan saran serta masukknnya mas

  5. Saya baru jalan 3 tahun jualan tiket dan tour. Untungnya sejak awal sudah mendapat beberapa customer instansi/perusahaan/pemerintahan, yang lumayan besar pembeliannya. Agak kewalahan juga dengan sistem pembayaran reimbursement, karena artinya kita juga harus punya modal cukup untuk menalangi dulu pembelian tiket itu. Harus hati-hati juga kalau mau beralih bisnis model ke instansi/korporat/pemerintahan, apalagi ada trust juga yang harus kuat, jangan sampai gak kebayar. hehehe

    “Daur hidup sebuah startup memang sangat bergantung pada ‘growth’, kepada users dan installers, dan bukan kepada profit/revenue.”

    Pas betul, dan itu yang selalu jelaskan ke customer (instansi/korporat) saat mereka membandingkan harga tiket yang saya jual dengan traveloka. Plus personal service, “Bapak/Ibu tinggal kasih nama penumpang, rute, tanggal dsb, saya yang isikan, tunggu manis nanti dikirim tiketnya”.

    Makasih Mas Wien artikelnya menguatkan posisi saya untuk tetap pada model yang saya jalankan. Butuh banyak pencerahan juga nih di industri pariwisata jaman now 🙂

    Sukses selalu mas

    nb. Saya punya teman lulusan enhai namanya Bisma Nugraha, penyair radio sekarang. Mungkin kenal juga. Hahahaa

  6. Barusan orang tua saya menghubungi saya, hanya untuk menyampaikan artikel mas wientor ini, dan mereka menyarankan saya untuk mengganti model dari usaha travel Agent kami, sungguh luar biasa, dan sangat bermanfaat, dan mulai hari ini kami resmi mengganti sistem Marketing serta management kami, syukur ada pencerahan yang luar biasa, pola pikir kami pun mulai berkembang.

    Trima kasih mas Wientor,
    Semoga terus berkarya mendukung usaha2 dari anak2 Bangsa ?

  7. Saya ga main di travel agent, tapi ulasan Anda dalem bgt.
    Jadi nambah insight dalam memahami dan menghadapi disruption era…
    thanks.. semoga selalu diberi kesehatan dan kesempatan, agar tetap menginspirasi.. 🙂

  8. Mantap Kang Ulasan nya.. Sy bacanya nggak hanya tulisan akang.. Tp sampai habis semua komentar nya.. Luar biasa… Terima kasih ya kang…

    Ditunggu ulasan nya mengenai Inbound Tour…

    Salam

  9. Salam kenal kang Wien
    Terimakasih atas tulisan nya.. memberi sudut pandang baru..
    Juga terimakasih tips utk konvensional travel agent agar bisa bertahan.. sangat membantu.

    Ijin bertanya… menurut kang Wien.. kira2 berapa maksimum prosentase market share travel industry di indonesia ..yang akan dikuasai pemain2 OTA ini.. !?!?!

    Karena saya yakin… dengan kondisi infrastruktur internet Indonesia …utk bicara wilayah Indonesia yang luas.. masih ada ruang utk konvensional travel agent ..
    apalagi orang indonesia pada umumnya masih malas baca.. masih pengen dilayani…
    Bagaimana kang?.. mohon pencerahan… hatur nuhun.
    Salam bobotoh ti bandung

    1. Salam kenal juga Kang,
      Saya tidak ada data utk memprediksi market share yang akan diambil oleh mereka, jadi gak berani ngomong.
      Lebih baik fokus ke diri sendiri dulu, kalau sudah ada alert mengganggu berarti musti waspada.
      Ruang akan selalu ada kang, hanya kalau ingin sustainable dengan segmen market yang terukur dan responsif ya yang seperti saya tulis, lebih baik menghindar dari perang dengan Traveloka atau Tiketdotcom.

  10. Waduh keduluan mau nulis topik ini..
    Tapi keren bang tulisannya.
    Emang itu startup susah banget dilawan, apalagi yg gak punya modal banyak.
    switch model bisnis mungkin opsi terbaik.
    Nice informasinya. salam kenal

  11. Sy trvl agnt di daerah… Imbas troubeloka mmg sdg kita rasakan cukup dahsyat mulai thn kemarin.. penjualan drop sd60%, mhn saran bgmn bisa bertahan dg modal yg tdk banyak , sy sdh coba banting setir utk buat program tur tp blum banyak membantu.. terutama utk menunjang operasional bulanan… Apa ada saran usaha lain yg juga bisa dijalankan dg tenaga dan peralatan kantor yg sdh ada..!? Mohon masukan dan terimakasih

  12. Dari dulu memang ga pernah minat ngembangin bisnis model PPOB, agen tiket pesawat, dan sejenisnya karena pada akhirnya semuanya akan menyediakan layanan transaksi seperti itu. Justru sekarang yang mulai menggeliat adalah bisnis travelling karena tingkatan stress setiap manusia untuk saat ini sudah semakin tinggi. Intinya adalah mereka tetap butuh liburan. Salam kenal ya Bang, keren tulisannya. 🙂

  13. Artikel yang sangat menarik. saya pelaku bisnis jasa, khususnya mengembangan diri seperti retret dan rekoleksi, leadership, pernah terpikir berkolaborasi dengan agen wisata, tapi belum terealisir. Saya pikir akan menjadi lebih menarik jika ada paket wisata tapi tidak murni wisata, melainkan ada sesi pengembangan diri…

  14. Tulisannya bagus….
    Saya malah baru terjun ke bisnis OTA ini dan menjadikan Traveloka referensi harga karena saya di bidang B2B dan B2C…. Berat? Pasti klo menggapai pasar yg traveloka minded tapi kan masih ada orang yang pasarnya beli tunai…..kartu kredit? Tidak punya….
    Saya pikir market akan tetap tumbuh karena tidak mungkin duo Traveloka dan Tiket.com menguasai semuanya…
    Jadi ada yang tetap bisa dinikmati… Rollercoaster bisnis OTA. Yang oasti tetap semngat! Stay String, Stay Positive

  15. Tulisan yang cukup menarik. Saya sudah bergerak di bidang travel sejak 1999 dan sudah melihat peluang dan arah pergerakan yang dilakukan TVLK namun memang cukup kaget dengan pesatnya perkembangan mereka terutama dari segi funding. Menurut saya memang no point going head-to-head dengan TVLK karena hanya large conglomerate groups yang mampu seperti tiket.com yang digawangi Djarum dan juga AntaVaya yang digawangi TransCorp. Saya sendiri saat ini sudah pindah haluan bekerja di platform B2B untuk travel agent yang mau melakukan transformasi digital dan merubah pola kerja yang konvensional. Mindset is extremely hard to change dan itu sudah saya buktikan bekerja di travel agent normal bertahun tahun, akhirnya saya ambil keputusan untuk menuangkan pengalaman saya dengan bergabung pada sebuah start-up penyedia platform travel b2b yang menurut saya masih bisa berpeluang melawan TVLK dengan cara yang berbeda. TVLK memang memegang pangsa market hingga 40% dari penjualan tiket di Indonesia selama 2017 namun travel agent masih ada 50% dan mayoritas bergerak di corporate travel. Ini yang belum bisa disentuh oleh TVLK dan saya berharap mereka tidak masuk ke ranah itu. Personalized service dan ultimate travel experience yang memang harus ditonjolkan dalam bersaing dengan TLVK karena you can never replace a human-touch dan masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk compliment market TLVK. Travel agents need to be more creative and tech savvy nowadays dan mau berpikir out-of-the-box untuk memberikan produk yang unik. Bagaimana pun, TLVK hanya mengandalkan technology yang canggih but they lack the human-touch dan personalized service, so there is room to play. Salam kenal bung!

  16. Poin utama artikel ini menurut saya adalah exit strategi dari travel agent konvensional,
    biar ndak head to head sama OTA.

    Masih banyak niche market yg bisa dioptimalkan oleh travel agen konvensional agar tetap survive.

    terima kasih ulasannya bagus

  17. Traveloka bisa jual harga jauh di bawah harga normal krn disubsidi oleh investor. Mirip Go-jek dan Grab.
    Kenapa investor mau suntik dana dan “bakar duit” tiap hari utk aplikasi online class unicorn tsb? Apa yg dicari oleh investor? Kalo dibilang “traffic” baik itu daily atau monthly saya rasa ngga juga. Coba buka web atau apps traveloka dan search salah satu hotel di paris. Abis itu tutup, dan buka facebook atau google. Ngga lama akan muncul banner hotel di paris yg lg discount dimana aja. Dr situ udh jelas sebenarnya yg dicari oleh investor itu apa. Jawaban nya adalah DATA.

    Dimasa depan, mata uang sesungguhnya adalah data. Company dgn database terbesar adalah pemegang kendali marketing dunia. Komoditi yg ga akan pernah lesu di masa depan adalah data, bayangkan google dgn database nya skrg, bs dgn gampang menawarkan dagangan datanya kpd perusahaan besar yg memiliki pangsa pasar yg sesuai dgn faktor demografi yg mrk miliki.

    Investor Travelokapun pastinya pengen juga punya database walaupun ngga sebanyak google, utk bs dijual ke pihak lain, dgn harapan bs dapat untung yg besar. Well, pertanyaan nya, apakah mrk bs compete dgn google? Mungkin bisa kl mrk pasang harga dibawah google 😛

    Soal saingan dgn traveloka, bisa saja, dgn bantuan intervensi pemerintah yg mengeluarkan regulasi ttg threshold harga produk jasa pariwisata, nanti nya Traveloka dan travel konvensional akan compete secara fair and square di harga product, dan Traveloka mungkin akan kalah di “personal touch” just my 2 cents

    1. I couldn’t agree more. Nice analysis. Masa depan memang currency-nya adalah DATA.

      ‘Coba buka web atau apps traveloka dan search salah satu hotel di paris. Abis itu tutup, dan buka facebook atau google. Ngga lama akan muncul banner hotel di paris yg lg discount dimana aja’ >> nah kalo yang ini berarti anda sedang terkena iklan retargeting. Cookies dr perangkat yang anda pakai akan nempel selama 30 hari kalo gak salah. Itu yg membuat berasa dikejar iklan 🙂

      Thks man!

      1. Baru ngeh ternyata kita 1 almamater di Enhaii hehehehe
        Mungkin anda senior saya, saya masuk th 97, TNT, skrg jd freelance tourleader, dan buka travel kecil2an sekelas UKM yg bermain di Corporate Incentive trip, yg jg belum tersentuh Traveloka 🙂

          1. Wah, kl begitu seangkatan sm Christo Gultom, Raski Fitra dkk, masih sempat 1 kampus kita hehehehehe, sukses juga buat kakak ?

  18. Sempat saya berpikir demikian, melihat beberapa travel agent konvensional di beberapa daerah, seperti Malang, yang tampak hidup segan mati tak mau. Apalagi belakangan Gen X saja sudah banyak melek teknologi, belajar memesan tiket pesawat dan hotel seorang diri secara online, setelah beberapa kali diajari anak-cucunya Gen Y atau Gen Z. Dan, tulisan ini semakin memperjelas jika memang dari sekarang ke depan ranah bisnis akan selalu berlandaskan pada kemajuan teknologi. 🙂

  19. “Traveloka disuntik dana oleh Expedia. Ini terjadi karena Expedia tau dia gak akan menang lawan local champion.”

    Pernyataan tersebut membuat saya tertawa kecut. Gak akan menang? Jika memang berniat serius, Exp. dan Priceline akan dengan mudah melibas TVLK. Tapi kenapa itu gak mereka lakukan? Untung apa membuatng sumber daya untuk bertarung jika kelak bisa berkolaborasi? That was old-wave movement, dude.

    Perspektif bisnis yang Anda gunakan cenderung dangkal jika ditinjau dari tulisan di atas. Jika Anda melihat bagaimana Exp. dan Priceline berekspansi, Anda akan paham kenapa mereka “enggan” berhadapan langsung dengan TVLK. Bukan karena takut dengan apa yang Anda sebut “local champion” itu.

    Priceline ambil alih Agoda tanpa melibatkan uang sama sekali. Anda mungkin akan paham rencana apa yang akan dilakukan di Expedia terhadap TVLK. Dan beberapa akuisisi yang dilakukan dua OTA tersebut.

    Ohya, TVLK punya fasilitas attraction & activities, mempersempit ruang gerak makelar-makelar kecil di daerah. Expedia menyewakan apa pun, termasuk kapal pesiar dan (soon to be) ruangan besar untuk pernikahan dsb. Exp. punya banyak brand yang memiliki perbedaannya masing-masing. Bukan tidak mungkin TVLK kelak menjadi salah satu Expedia Brand.

    Jika itu terjadi, saya akan tertawa karena analisis Anda sahih dangkalnya 🙂

    Salam.

    1. Mas dude, Priceline udah masuk ke indonesia pake Agoda. They were the winner back 2-3 years ago.
      Sekarang Agoda kelibas sama Traveloka buat pick up tamu ke hotel. Rata-rata di hotel tamu mereka dari Agoda gak lebih dari 15% dan dari Traveloka bisa lebih dari 40%.
      Dan itu terjadi sebelum Traveloka kesuntik dana dari Expedia. Traveloka adalah local champion.

      Traveloka dan Expedia entitas bisnis yang berbeda dan bertarung di lahan yang berbeda. Tidak ada keterangan ketika Expedia masuk itu dibarter berapa % saham.
      Ini bukan kolaborasi. Ini chip-in. Mungkin saja nanti beberapa model bisnis Expedia dibawa masuk ke Traveloka. Hak mereka orang mereka yang punya.

      Mas dude boleh saja menganalisis berbeda, tapi saya memberikan jalan keluar untuk teman-teman travel agent konvensional. Dengan analisis dangkal yang saya punya. 🙂
      Matur suwun sudah mampir.

  20. Mau tanya dong pendapat anda, terus bagaimana dengan si unyil yang disuntik duo raksasa ( sebenernya 1 raksasa sih) sang Tiket.com?

    dibelakangnya BCA dan Djarum. Naga besar di indonesia, yang sudah masuk ke pemerintahan dan politik. gimana jika ada kebijakan baru ?

    Dari nama Tiket.com mereka udah bisa meraup market / pasar baru yang baru mengenali pemesanan tiket online, bahkan bisa meraup ke berbagai Tiket selain tiket pesawat.

    bisnis kan ga bisa pure bisnis juga, politik harus main dll.

    1. Bisnis makelar tiket ini udah ada dari dulu. Jadi menurut saya akan susah bagi pemerintah untuk ‘memaksakan kebijakan’ yang merugikan OTA.
      Tiket(dot)com adalah challenger Traveloka yang paling bisa menyusul. Kalau yang lainnya masih jauh.

  21. Ulasan yang bagus dan inspiratif. Sementara travel agent yang menjual kombinasi paket wisata dan fleksibilitas masih bisa bertahan… sementara tapi 🙂

  22. Menurut saya bisnis yg ga ada profit seperti ini ga akan sustain dalam jangka panjang. Akhirny akan tumbang krn tidak punya fundamental dan value yg kuat. Semua bisnis ada siklusnya. Cara mengalahkan traveloka bisa dng efisiensi perusahaan dan menunggu sampai siklusnya selesai

      1. Daripada nunggu siklusnya selesai, mending ikut nyebur ke dalam trend ya.
        Apalagi kelihatannya ini trend masih belum sampai ke titik puncaknya…

  23. Keren banget.. Kalo Otomotif (motor) kira2 gimana bro? Apakah di negara lain jualan online, tanpa konsumen datang ke dealer?

  24. Ini salah satu tulisan yang menarik, tapi coba di perhatikan yang menjadi pemenangnya OTA tsb Traveloka atau expedia?
    Saya lebih senang bilang kalau pemenangnya adalah expediatraveloka, tapi menurut saya meskipun demikian pasarnya travelokaexpedia pun akan habis atau akan tergerus dalam 1 – 3 tahun kedepan. Hal tsb bisa kita lihat dari mis : tiket.com saat ini memiliki dana yang cukup besar sehinga dengan demikian mereka memiliki dana yang cukup utk saingi promosi traveloka yang gila gilaan. Makanya kalau kita lihat saat ini iklannya tiket.com sungguh luar biasa . Selain itu ada airyroom, pegipegi, misteraladin dll. Ini menurut saya perusahaan yang teknologi dan keuangannya cukup baik. Belum lagi saat ini ada ratusan atau ribuan OTA baru yang siap merebut pasar tsb.

    1. Traveloka disuntik dana oleh Expedia. Ini terjadi karena Expedia tau dia gak akan menang lawan local champion.
      Tiket(dot)com tahun lalu dibeli sama Blibli dari grup Djarum. Saya ragu investor lokal mau menyuntik dana biar jadi Unicorn.
      Tambahan lagi : Airyroom itu punya Traveloka juga buat menghadapi AirBnb. 🙂

  25. Assalamualaikum..

    Tulisan yang bagus dan terima kasih tips2 untuk travel agent konventionalnya.. heheh..

    Saya didaerah.. dan saya ga terganggu dgn traveloka.. malah terbantu. Langganan saya masih lebih suka diservice. Palingan mereka menggunakan aplikasi utk cek harga dan jam. Sementara utk book dan issued ttp mengandalakan kami travel agentnya ^_^

    Dan utk hotel saya sendiri pernah langganan agoda.. tapi akhirnya beralih kembali ke travel agent lokal karena lebih nyaman dan memuaskan terutama utk tamu yg banyak requestnya…

    1. Wa’alaikumsalam. Di daerah biasanya masih terkendala sama trust memasukkan kartu kredit, sudah teratasi dengan pembayaran via alfam*rt atau indom*rt, tapi konsumen tetep saja males (dipikirnya ribet). Waspada lebih baik. Makin lama pasti terimbas juga.

  26. Saya juga baca sampai habis.
    Mantap banget tulisannya..
    Menjadi pencerahan n membuka mata pikiran.
    Trmksh mas..

  27. Saya adalah salah satu korban traveloka yang gak bisa compalint….bingung mau compalintvke siapa….hhehehe….
    Terima kasih pencerahannya saat ini saya hanya berharap semoga masih bisa bertahan dengan situasi yang ada dengan catatan client saya gak berpaling ke traveloka yang belum.punya paket study tour….Semoga ajah

      1. Paket tour mmg blm tapi traveloka sudah mulai bundling tiket pesawat dengan hotel hanya kurang tour nya saja dan sekarang info terupdate traveloka lagi menggarap market corporate. Mudah2an saya salah

  28. Senin pagi nyari trend market malah nyasar kesini, pa kabar pak Wir? Saya lg kerja dan perang2 berdarah jg nih dengan troubleloka itu.

    Blm dalam tahap perang apple to apple, baru dalam tahap pemuasan layanan konsumen di segmen produk tour. Untungnya si troubleloka ini jg masih dalam tahap coba2 di ranah produk tour yg Vizitrip.com tempat saya berdarah darah sekarang berperang.

    Jadi kami masih berusaha menjadi pioner untuk mengangkat para travel agent old agar dapat bertahan di pasaran. Saya setuju tu sama orderan pa @edwin noor untuk bahas prospek produk tour inbound. Sukses selalu pak, salam untuk warga HOA

  29. Assalamualaikum wr.wb.

    Jazakallahu utk pencerahannya, in syaa Allah sy bs berpikir keras utk diferensiasi bisnis kecil tp byk n gak perlu mikirin Ota spt diatas drpd sakit kepala hehe… Alhamdulillah bs bertahan masih bagus zaman now…

    #Ditunggu tulisan cerdas berikutnya.

    Ada no WA bro??

    Waalaikumsalam wr.wb.

    Kiki Rizki Mulki Gozali Iskandar

  30. Pencerahan yang “mengena” kebetulan kami ada di bisnis hotel yang segmentasi pasar OTA sudah hampir “mengejar” segmentasi FIT yang tentunya lokal, kami pahami untuk kemudahan customer memesan kamar tanpa repot ke hotel hanya dilakukan melalui aplikasi tentunya dgn harga lebih murah dibandingkan harga yang dijual hotel.
    Mungkin ada saran dari akang untuk mengembalikan segmentasi FIT karena pasti akan mempengaruhi pendapatan hotel..
    Makasih kang, ini bener2 suatu ilmu baru..

    1. Perkuat web direct. FIT disini jangan cuma diartikan FIT yang walk in offline, tapi ada FIT online yang masih swing buyers. Ini yang harus dijaring dengan website hotel.
      Karena pada akhirnya hanya FIT yang akan bisa mengangkat ARR 🙂

  31. Wow suatu prestasi, Saya baca sampai habis semua tulisan panjang ini (biasanya malas baca tulisan online yg panjang)hehe.. Karena memang Keren Dan menarik tulisannya

    Jadi berpikir ulang kembali tentang Model bisnis yg dijalankan sekarang sepertinya harus diperbaharui

    Terimakasih insight suhu

  32. Tulisan yang sangat inspiratif Bro.Well Done! Saya jadi langsung nulis seputar Traveloka juga nih.saya share ya.. hehe

  33. Ini baru tulisan cerdas
    Merasa ad kesamaan pikiran,cuman bedanya sy lg malas ngetiknya wkwkwkwk #ngeles
    Beberapa ada yg sy alami dn rasakan sndiri, sperti floating deposit dn lainnya

    Tpi good job utk penulisnya!
    Keep posting!

  34. Tjakep gile bang.
    Mindset ane masih mindset old bang.
    Tapi kayak di refresh abis baca ini.
    Banyak banget pengetahuan yang terkuak.
    Keep it up bang

Berikan komentar

Email Anda tidak akan kami publikasikan. Wajib diisi *